Perkembangan Manual Brewing di Indonesia

Minum kopi sudah bukan lagi tuang air panas di gelas, selesai. Saat ini dengan perkembangan gerai kopi yang semakin modern, minum kopi dianggap sebagai sebuah gaya. 
Kadang manusia tidak pernah merasa puas, sehingga mencari alternatif cara dalam melakukan seduh kopi. Kita tahu sajian espresso, ekstraksi kopi dihasilkan dari mesin bertekanan 10-15 bar yang menghasilkan kurang lebih 30 ml kopi. Menikmati espresso tentu saja harus di kafe, dan harga minuman di kafe dengan mesin espresso tentu tidak murah. Pemuasaan dahaga dan kepuasan dalam menikmati kopi tentu saja ingin dibawa ke rumah oleh penggila kopi. Bagi yang berdana besar, mudah saja membeli mesin espresso kelas komersial yang harganya puluhan juta itu. Tapi bagi yang tidak? Tentu saja mencoba mencari solusi lain. 
Salah satunya manual brewing di rumah, atau seduh kopi manual sendiri dengan alat berkelas. Jangan dikira mudah, banyak alat dengan kerumitannya yang diciptakan untuk menghasilkan pengalaman menikmati secangkir kopi senikmat di kafe ternama. 
Bahasan tentang manual brewing pada intinya memberikan setiap orang kesempatan melakukan proses seduh kopi berkualitas. Seduh kopi dapat dilakukan mandiri, kapanpun dimanapun jika seorang penggila kopi sudah menekuni hal yang satu ini. Yang pasti banyak bereksperimen merupakan suatu keharusan untuk menemukan variabel yang tepat yang mencerminkan kopi yang rasanya pribadi buat anda. Tentu saja biji kopi berpengaruh, belilah grinder untuk menggiling biji kopi, jangan simpan kopi dalam bentuk bubuk karena akan mengurangi aroma.
Metode manual brewing dikategorikan berdasarkan cara bubuk kopi berinteraksi dengan air, yang bisa dikategorikan menjadi 3 yaitu:

1. Immersion
Metode ini, bubuk kopi dan air mengalami kontak penuh sepanjang proses penyeduhan, gerakan air selama proses seduh sangat minim, terjadi hanya saat penuangan air saja atau pada saat penyaringan. Contoh alat seduh manual yang tergolong pada metode immersion adalah french press. 
French Press


2. Pour Over
Metode ini,  air secara konstan mengaliri bubuk kopi, dan melewatinya. Kita membutuhkan bahan kertas sebagai penyaring. Banyak bentuk alat yang diciptakan untuk mendukung metode pour over, pada umumnya bentuknya corong. Tapi anda mesti membeli chemex, karena desainnya sangat fenomenal. Intinya, kopi yang dihasilkan akan menghasilkan profil yang bersih (clean). Alat yang masuk pada metode ini adalah V60, Chemex, dan Kalita Wave. 

Chemex


3. Vacuum
Metode ini mungkin yang paling merepotkan, pada intinya alat yang diciptakan untuk metode ini bermain dengan perubahan tekanan uap air. mendorong air ke bejana atas, dan menjatuhkan air kembali ke bawah saat mencapai titik didih. Alat yang diciptakan untuk metode ini adalah syphon. Alat ini lebih mirip alat praktek percobaan kimia. 

Syphon
Beragam sekali cara untuk menghasilkan hanya secangkir kopi, tapi tentu saja itu sebanding dengan rasa yang kita nikmati nantinya. Sensasinya berbeda. Kerepotannya, harus memakai timbangan untuk menentukan gramasi, belum lagi memainkan variabel air dan halus kasarnya gilingan, semua untuk mencapai kepuasan rasa. Tentu saja, preferensi rasa enak tiap orang berbeda, dan membicarakan kopi pasti tak ada habisnya. 

Benar, layaknya gelombang pasang, saat ini dunia kita memasuki gelombang 3rd Wave Coffee, yang dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. 1st Wave Coffee = kopi untuk dikonsumsi (hanya tambahkan gula dan krimer pada kopi)
b. 2nd Wave Coffee = kopi untuk dinikmati (mulai ada kepedulian identifikasi asal daerah kopi, diciptakannya frappucino, syrup untuk latte)
c. 3rd Wave Coffee = kopi untuk diapresiasi (seperti musik, anggur, seni)

Negara kita Indonesia apakah sudah diterpa gelombang ini? Dalam kurun waktu 5-15 tahun ke depan sepertinya gelombang 3rd Wave Coffee akan dimulai. 



nb: boleh meng-copy artikel dengan mencamtumkan sumber dari blog ini

Komentar

Postingan Populer